Keluarga Korban Mengamuk di PN

Ricuh di PN Kolaka saat sidang kasus perkosaan anak di bawah umur

Sidang pembacaan putusan kasus pemerkosaan anak dibawah umur yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Kolaka kemarin (17/4) berakhir ricuh. Bahkan sebelum persidangan dimulai, massa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Kolaka yang ikut mendampingi keluarga korban sudah ribut duluan. Mereka melempari kantor PN Kolaka.
Pemicunya, massa HMI dan keluarga korban tidak terima putusan hakim PN yang dipimpin langsung oleh Ketua PN, Hariadi didampingi hakim anggota, Leli Salempang dan Afrizal. Hakim memutuskan pidana yang dijatuhkan pada terdakwa, Adrianto dengan kurungan 7 tahun penjara ditambah denda Rp 30 juta atau diganti kurungan 3 bulan.
Meski putusan itu lebih tinggi dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU), Ilimiawan, 4 tahun penjara, tapi tetap tidak memuaskan keluarga korban. Mereka merasa harusnya terdakwa dituntut maksimal sesuai dengan Undang-undang Perlindungan Anak (UUPA) nomor 23 tahun 2002 pasal 81 dan 82, yakni pidana maskimal 15 tahun. “Banyak kasus serupa yang korbannya hanya dipegang, tapi pidananya 7 sampai 9 tahun penjara. Saya tidak terima dengan putusan hakim,” teriak Ibnu Hajar, keluarga korban yang mengamuk di PN kemarin. Sementara itu kasus pemerkosaan dibawah umur itu akan naik banding oleh pihak keluarga.
Massa kemudian ribut diluar PN, setelah dihalau oleh aparat kepolisian dan pagawai PN. Diluar massa bersitegang dengan aparat dan pegawai PN. Sempat terjadi dorong-dorongan antara kedua pihak. Saat massa melempari kantor PN, salah satu jendela kantor yang terkena lemparan pecah. Hal itu membuat pegawai pengadilan yang berjaga marah, sehingga mereka menyerang massa yang juga sudah panas. Salah seorang anggota HMI yang diduga pelaku pelemparan, Akbar, dihajar oleh pegawai pengadilan. Hal ini membuat massa naik pitam sehingga terjadi saling serang.
Menurut keterangan massa, salah seorang staf pengadilan bernama Haerul tiba-tiba saja langsung memukul salah seorang pengunjuk rasa tanpa alasan yang jelas. Alhasil pemukulan yang dilakukan staf pengadilan itu membuat pengunjuk rasa naik pitam dan hendak menyelamatkan kawannya. Saat itu, sejumlah polisi yang berjaga bukannya melerai tapi malah ikut memukul massa. “Polisi ikut melakukan pemukulan, mencekik, memiting leher dan lengan kami juga merobek-robek baju salah seorang teman kami,” terangnya.
Bentrok antara pengunjuk rasa dan polisi mengakibatkan empat massa pendemo menderita luka goresan pada leher, lengan, jari dan wajah. Mereka yang menderita luka  adalah Adri Pasla, Aswar, Akbar, dan Rustam.
Tidak terima rekannya dijadikan bulan-bulanan polisi, pengunjuk rasa melaporkan kejadian itu ke Polres Kolaka. Polisi melakukan pemeriksaan dan visum terhadap empat korban penganiayaan. Ahmad Jumadis, ketua umum HIPERMAHI, menyatakan kekecewaan terhadap oknum polisi berlaku arogan dan tidak mengawal secara baik unjuk rasa yang dilakukan massa. “Saya sangat kecewa terhadap aparat. Jika 1×24 jam polisi tidak menemukan pelaku pemukulan, maka HIPERMAHI cabang Kolaka dan Kendari akan menyurat ke Polda dan ke Mabes agar mencopot jabatan Kapolres, Wakapolres dan Kabag Ops. Mereka tidak layak berada di sini,” tegasnya.
Ketua PN Kolaka, Hariadi yang mengadakan jumpa pers usai persidangan menyatakan, majelis hakim telah melaksanakan tugasnya sesuai prosedur. Putusan yang tetapkan majelis hakim kata Hariadi, telah melalui pertimbangan sesuai fakta persidangan yang terungkap di pengadilan. “Kami menetapkan putusan perkara ini sudah sesuai dengan prosedur perundang-undangan. Fakta yang terungkap dalam persidangan hanya mampu membuktikan bahwa terdakwa dapat dihukum dengan pidana 7 tahun penjara,” jelasnya. (ANTI/GUGUS)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s